Thursday, November 10, 2016

KISAH SUKSES Ridwan Kamil: Hidup adalah Memberi

Dengan tinggal serta memiliki kantor kecil di Bandung (hanya cukup untuk 25 orang), juga berprofesi sebagai dosen Arsitektur ITB dan ketua Bandung Creative City Forum, Ridwan Kamil mematahkan mitos bahwa untuk sukses harus tinggal di Jakarta, memiliki kantor yang besar dan harus bekerja sebagai full professional.

Bersama Urbane (Urban Evolution) sebagai jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain yang dia dirikan pada tahun 2004, Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil banyak menghasilkan karya arsitektur di berbagai negara seperti di Singapura, Thailand, Bahrain, Cina, Vietnam, Uni Emirat Arab dan tentu saja di Indonesia. Umumnya proyek ini berupa pengembangan kawasan perkotaan seluas 10-1000 ha atau disebut sebagai mega proyek.

Beberapa contoh proyek yang ditangani Emil diantaranya seperti Marina Bay Waterfront Master di Singapura, Sukhotai Urban Resort Master Plan di Bangkok, Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar, juga District 1 Saigon South Residential Master Plan di Saigon. Sementara di Cina ada Shao Xing Waterfront Masterplan, Beijing CBD Master Plan, dan Guangzhou Science City Master Plan.

Sedangkan di Jakarta Emil menggarap Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum, dari luas lahan sebesar 12 ha itu nantinya akan dibangung Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, retail, dan waterfront. Sebelum itu diantaranya dia juga mendisain Menara I Universitas Tarumanegara, Al-Azhar International School di Kota Baru Parahyangan, Bandung, lalu Grand Wisata Community Club House di Bekasi, Pupuk Kaltim IT Center di Balik Papan, dan masih banyak lagi.

Keberhasilan itu ditambah lagi dengan penghargaan menjuarai 20 sayembara, baik bersama Urbane maupun secara  pribadi. Sebagai contoh, pada tahun 2009 dan 2008 Urbane mendapat penghargaan BCI Asia Top 10 Awards untuk kategori rancangan bangunan bisnis. Selain itu Emil juga menjadi juara dalam merancang Museum Tsunami di Aceh dan memenangkan Young Creative Entrepreneur Award pada tahun 2006 dari British Council.

Lahir di Bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 Emil adalah anak kedua dari lima bersaudara. sejak kecil Emil sebenarnya suka berimajinasi. Dia suka membaca komik dan melihat foto-foto berbagai kota sepulang ayahnya dari luar negeri. Dari hal yang terakhir kemudian muncul bayangan akan kota yang dapat membuat nyaman masyarakat. Selain itu sejak kecil Emil juga sudah memiliki jiwa wirausaha. Sewaktu SD dia pernah berjualan es mambo buatannya sendiri.

Selama masa sekolah Emil dikenal sebagai pribadi yang aktif dan cerdas. Selain aktif di OSIS, Paskibra dan klub sepakbola, Emil selalu masuk urutan lima besar di kelas. Semasa kuliah di jurusan Arsitektur ITB, Emil juga aktif di himpunan mahasiswa dan unit kegiatan seni Sunda.
Di kampusnya jiwa wirausaha Emil kemudian tumbuh lagi, untuk mencari dana tambahan untuk keperluan kuliahnya Emil membuat ilustrasi cat air atau maket untuk dosen. Pada tahun 1997 Emil lulus dari ITB dan memilih untuk bekerja di Amerika Serikat. Tapi baru empat bulan bekerja dia dipecat karena imbas krisis moneter membuat klien asal Indonesia tidak membayar pekerjaanya.

Malu untuk pulang Emil berusaha untuk tetap di Amerika, dan akhirnya dia mendapatkan beasiswa S2 di University of California, Berkeley. Untuk bertahan hidup dia merasakan makan sehari sekali dengan menu murahan seharga 99 sen dan bekerja di paruh waktu di dinas tata kota Berkele.

Di Amerika pengalaman untuk bertahan hidup Emil terus bertambah ketika istrinya, Atalia Praratya, akan melahirkan anak pertama. Bapak yang kini memiliki dua anak itu tidak punya uang sehingga akhirnya dia harus mengaku miskin pada pemerintahan kota setempat agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Akhirnya, dia menemani sang istri melahirkan di rumah sakit khusus orang miskin, tepatnya di bangsal yang penuh dengan ibu-ibu menjerit kesakitan ketika melahirkan.

Baginya pengalaman jatuh-bangun itulah yang membentuk nilai-nilai hidupnya. Emil yang juga penulis blog ini juga mengaku dia tidak akan melupakan pengalaman itu dan justru pengalaman itulah yang dijadikannya motivasi. Pada tahun 2002 Emil kembali ke Indonesia dan dua tahun kemudian dia mendirikan Urbane.

Menurut Emil pada empat tahun pertama Urbane memiliki target untuk membangun reputasi secara komersil, sementara empat tahun berikutnya, yang artinya sekarang, Urbane fokus pada membangun masyarakat miskin kota. Masalah yang pernah dia alami sendiri.
Dari seluruh pengalamannya itu maka Emil memiliki filosofi to live is to give, hidup adalah untuk memberi. Kesuksesan dirinya bersama Urbane saat ini dia sadari hanya keberuntungan karena roda kehidupan kadang di atas, kadang di bawah. Orang bilang kalau mati orang meninggalkan nama, tapi bagi Emil keinginan tertingginya jika dia mati nanti adalah meninggalkan inspirasi, ide dan cerita yang bisa dilanjutkan oleh orang lain.

Kisah Pendirian Dan Asal Kata Bandung, Serta Asal Usul Julukan Kota Kembang Dan Paris Van Java

Tepat pada tanggal 25 September 1810, Bandung resmi berdiri berdasarkan surat keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Tidak terasa Bandung di tahun ini genap berusia 205 tahun. Banyak peristiwa yang terjadi di kota yang dijuluki “Parijs Van Java”, Paris-nya Pulau Jawa ini.
Bandung yang terkenal dengan penduduknya yang ramah dan beriklim sejuk ini secara geografis terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak di ketinggian sekitar 768 m permukaan laut rata-rata, dengan daerah bagian utara lebih tinggi daripada bagian selatan. Bandung dikelilingi pegunungan sehingga Bandung merupakan cekungan (Bandung basin). Sungai yang mengalir melintasi kota Bandung adalah Sungai Citarum dan Sungai Cikapundung dengan anak-anak sungai yang mengalir ke arah selatan sehingga mengakibatkan Bandung selatan rentan dengan banjir.
Pendirian kota Bandung tidak sama dengan pendirian Kabupaten Bandung. Kabupaten Bandung didirikan pada abad ke-17, dengan ibukota berlokasi di Krapyak (sekarangDayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer dari pusat kota Bandung saat ini. Pada saat pemerintahan beralih dari Kompeni ke Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama yaitu Herman Willem Daendels (1808-1811), bupati yang menjabat adalah R. A. Wiranatakusumah II (1794-1829) yang juga dijuluki Dalem Kaum I.
Di masa pemerintahannya, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer ke Panarukan sepanjang 1000 km dengan menggunakan tenaga pribumi di bawah pimpinan bupati masing-masing daerah. Di Bandung, Jalan Raya Pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808 dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang sudah ada. Kini jalan tersebut bernama Jalan Jendral Sudirman, Jalan Asia Afrika, Jalan Ahmad Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya.
Untuk kelancaran pembangunan jalan raya tersebut dan akses ke kantor bupati semakin mudah bagi pemerintah kolonial, Daendels pada suratnya yang bertanggal 25 Mei 1810 memerintahkan Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten masing-masing ke Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari). Rupanya jauh sebelum surat itu dikeluarkan, Bupati Bandung sudah merencanakan untuk pindah dan telah menemukan tempat yang strategis. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos. Alasan kepindahan tersebut adalah karena Krapyak tidak strategis dan sering dilanda banjir.
Bupati beserta sejumlah rakyatnya tidak langsung pindah ke daerah tersebut. Awalnya di akhir tahun 1808 dan awal 1809 mereka pindah ke kawasan Cikalintu (kini Cipaganti). Kemudian mereka pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampung Bogor (kini Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan).
Dari kisah ini jelaslah bahwa pendirian kota Bandung merupakan inisiatif dan prakarsa Bupati Bandung saat itu yaitu R. A. Wiranatakusumah II, dengan kata lain pendiri kota Bandung adalah beliau bukan Daendels.
Kata Bandung bukan hanya sekedar nama dan kata saja, tapi dipilih berdasarkan sejarah dan filosofi tanah Pasundan itu sendiri. Ada banyak sumber yang menyatakan asal kata Bandung, seperti berikut ini.
Sumber pertama menyatakan bahwa Bandung berasal dari kata ‘bendung’ atau‘bendungan’ karena terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Asal kata ini sering dikaitkan dengan Legenda Sangkuriang yang merupakan legenda terbentuknya Danau Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu, serta kisah keringnya Danau Bandung yang pada akhirnya merupakan kota Bandung di masa kini.
Sumber kedua berasal dari legenda yang diceritakan oleh orang tua jaman dulu. Nama Bandung diambil dari nama sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut ‘perahu bandung’ yang dikendarai oleh Bupati Bandung, R. A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Sungai Citarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.
Sementara itu, sumber ketiga berdasarkan filosofi Sunda yang merupakan suku terbanyak yang tinggal di kota ini. Kata Bandung berasal dari kalimat sakral dan luhur ‘Nga-Bandung-an Banda Indung’. ‘Nga-Bandung-an’ berarti menyaksikan atau bersaksi. ‘Banda’ adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. ‘Banda’ juga bisa diartikan harta. ‘Indung’ berarti Ibu atau bumi yang kerap kali disebut ibu pertiwi. Jadi kata Bandung secara lengkapnya mengandung nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaannya disaksikan oleh Yang Maha Kuasa.
Bandung sedari dulu sudah mempunyai julukan yaitu Kota Kembang (kota bunga) dan Parijs Van Java. Kita sering berpikir bahwa julukan Kota Kembang berhubungan dengan Bandung yang berhawa sejuk. Hawa Bandung menjadi sejuk barangkali karena di Bandung banyak pepohonan yang otomatis tentu banyak bunganya. Atau kemungkinan kedua karena di Bandung terkenal banyak ditemukan ‘awewe geulis’ (wanita cantik) yang sering dilambangkan dengan kembang (bunga) sehingga mendapat julukan tersebut.
Tapi ternyata menurut sejarahwan Haryoto Kunto dalam bukunya yang berjudul ‘Wajah Bandoeng Tempo Doloe’, kembang yang dimaksud adalah ‘kembang dayang’ yang dalam bahasa Sunda sama dengan WTS (Wanita Tuna Susila) atau PSK (Pekerja Seks Komersial).
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1896, Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters (Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula) yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongresnya yang pertama. Tercatatlah panitia kongres bernama Tuan Jacob yang kemudian mendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan ‘kembang-kembang’ alias ‘noni-noni cantik’ Indo-Belanda dari perkebunan Pasirmalang untuk menghibur para pengusaha perkebunan gula tersebut.
Kongres berjalan dengan sukses. Para peserta merasa sangat puas. Dari mulut para peserta itulah muncul kata-kata ‘De Bloem der Indische Bergsteden’ atau ‘bunganya’ kota pegunungan di Hindia Belanda yang pada akhirnya membuat Bandung dijuluki Kota Kembang.
Julukan Parijs Van Java pun ternyata banyak yang salah mengartikan. Kita selama ini berpikir bahwa Bandung sangatlah indah seperti kota Paris di Prancis. Tapi ternyata julukan tersebut muncul karena pada jamannya, di Jalan Braga terdapat banyak toko yang menjual barang-barang berasal dari Paris terutama pakaian. Toko yang terkenal adalah ‘Modemagazinj ‘au bon Marche’’ yang menjual gaun wanita dengan mode asal Paris, dan ada ‘Maison Bogerijen’, restoran yang terkenal menjual makanan Prancis yang sering dikunjungi oleh para pengusaha dan pejabat dari Eropa dan Hindia Belanda.
Itulah sekilas kisah pendirian dan asal kata Bandung, juga asal usul julukan Kota Kembang dan Parijs Van Java. Apa pun yang terjadi di Bandung, baik peristiwa baik dan kelam, Bandung adalah kota yang istimewa. Dirgahayu Bandung, semoga kota dan warga Bandung semakin maju dan berkembang dengan positif, membawa harum nama Indonesia di pentas Asia maupun dunia. Sumanget!
Sumber:
http://www.bandungaktual.com/p/sejarah-bandung.html
http://www.bandungaktual.com/2015/03/sejarah-kota-bandung-asal-usul-nama.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bandung

Daftar Nama & Alamat Benjang

Benjang merupakan salah satu seni Sunda yang hingga saat ini terus di pertahankan keberadaannya. Dan Benjang adalah salah satu beragamnya seni pertunjukan yang awalnya sebagai ketangkasan para jawara yang berkembang menjadi seni pertunjukan yang didalamnya terdapat unsur-unsur penunjang dalam pertujukan diantaranya adanya pemain yang tidak terbatas jumlahnya unsur musik sebagai pengiringnya diantaranya musik terebang, terompet, kendang dan kecrek. Berikut inidaftar Seni Benjang yang berada di Bandung dan sekitarnya.
Tentang apa dan bagaimana tentang Benjang selengkapnya, silahkan kunjungi artikel “Apa itu Seni Sunda Benjang“.
1. Al Wasim
Ds. Cipadung, Cipadung. Kec. Cibiru

2. Ama Putra
Kp. Cipanjalu, Pasirjati. Kec. Ujungberung

3. Aneka Warna
Ds. Cisurupan Pasirluhur RT. 01/01,Cilengkrang. Kec. Ujungberung

4. Biru Muda
Kp. Cigending, Cigending. Kec. Ujungberung

5. Buhun Kencana
Kp. Ciwaru, Cilengkrang. Kec. Ujungberung

6. Cibiru Putra
Kp. Cibiru Hilir, Kec. Cibiru

7. Garuga Mas
Kp. Ciguruwik. Kec. Cibiru

8. Harapan Putra
Kp. Babakan Sumedang, Cilengkrang. Kec. Ujungberung

10. Libot Muda
Kp. Ciwaru, Cilengkrang. Kec. Ujungberung

11. Lugay Pusaka
Kp. Cihareugeum, Jatiendah. Kec. Ujungberung

12. Mekar Budaya
Cipatat, Cilengkrang. Kec. Ujungberung

13. Mekar Harapan
Jl. Cilengkrang I Kp. Cigagak, Cilengkrang – Ujungberung

15. Pabega
Kp. Garung, Cipadung. Kec. Cibiru

16. Panca Warna
Kp. Karanganyar, Pasirjati. Kec. Ujungberung

17. Panjigata
Kp. Tanjakan Panjang. Kec. Ujungberung

18. Pustaka Wangi
Kp. Sekemanggung, Jatiendah. Kec. Ujungberung

19. Pustaka Wargi
Kp. Ranca, Melatiwangi. Kec. Ujungberung

20. Putra Babakan
Kp. Pasirangin, Cilengkrang. Kec. Ujungberung

21. Putra Manglayang
Kp. Cigagak, Cilengkrang. Kec. Ujungberung

22. Rajawali Putih
Kp. Sukagalih, Kec. Ujungberung

23. Saptari
Kp. Cihareugeum, Jatiendah. Kec. Ujungberung

24. Sekar Pakuan
Kp. Cipanjalu, Pasirjati. Kec. Ujungberung

25. Wargi Siiwangi
Kp. Cigupakan, Ciporeat. Kec. Ujungberung

26. Candra Kirana (Benjang Helaran dan Tarung)
Jl. raya Ujung Berung, Simpay Asih No. 17
Kelurahan Pasir Endah
Kecamatan Ujungberung

27. Lingkung Seni Mekar Jaya (Seni Tradisional Benjang)
Jl. Ciporeat Rt. 02 Rw. 08
Kelurahan Pasanggrahan
Kecamatan Ujungberung

28. Lingkung Seni Mekar Kusumah (Seni Tradisional Benjang)
Jl. Sekedangdeur Rt. 02 Rw. 10
Kelurahan Pasanggrahan
Kecamatan Ujungberung

29. Rineka Seni Mekar Jaya Muda (Seni Tradisional Benjang)
Jl. Ciporeat Rt. 02 Rw. 08
Kelurahan Pasanggrahan
Kecamatan Ujungberung

30. Tibelat “Mitra Sejati” (Benjang Helaran dan Reak)
Kp. Jati Rt. 04 Rw. 06
Kelurahan Pasir Biru
Kecamatan Cibiru

Sejarah Benjang

Seni Sunda Benjang merupakan salah satu seni kebanggaan budaya Sunda. Seni Benjang ini terus dipertahankan keberadaannya hingga jaman modern seperti sekarang. Sebenarnya seperti apa Benjang tersebut atau Apa Itu Seni Sunda Benjang?
Selain Angklung, suku Sunda masih memiliki ragam budaya lainnya yang sangat menarik dan mempesona.
Benjang adalah jenis kesenian tradisional Tatar Sunda, yang hidup dan berkembang di sekitar Kecamatan Ujungberung, Kabupaten Bandung hingga kini. Dalam pertunjukannya, selain mempertontonkan ibingan (tarian) yang mirip dengan gerak pencak silat, juga dipertunjukkan gerak-gerak perkelahian yang mirip gulat.
Seperti umumnya kesenian tradisional Sunda yang selalu mempergunakan lagu untuk mengiringi gerakan-gerakan pemainnya, demikian pula dalam seni benjang, lagu memegang peranan yang cukup penting dalam menampilkan seni benjang. Misalnya, pada lagu Rincik Manik dan Ela-Ela, pemain benjang akan melakukan gerakan yang disebut dogong, yaitu permainan saling mendorong antara du apemain benjang dengan mempergunakan halu (antan) dalam sebuah lingkaran atau arena. Yang terseret ke luar garis lingkaran dalam dogong itu dinyatakan kalah.
Dari gerakan dogong tadi kemudian berkembanglah gerakan seredan, yaitu saling desak dan dorong seperti permainan sumo Jepang tanpa alat apa pun. Begitu pula aturannya, yang terdorong ke luar lingkaran dinyatakan kalah. Gerak seredan berkembang menjadi gerak adu mundur. Dalam gerakan ini yang dipergunakan adalah pundak masing-masing, jadi tidak mempergunakan tangan atau alat apa pun. Selain itu, ada pula yang disebut babagongan, yaitu gerakan atau ibingan para pemain yang mempertunjukkan gerakan mirip bagong (celeng atau **** hutan), dan dodombaan yaitu gerakan atau ibing mirip domba yang sedang berkelahi adu tanduk.
Peraturan untuk babagongan, dogong, seredan maupun adu mundur dan dodombaan adalah melarang pemain menggunakan tangan. Namun, karena seringnya terjadi pelanggaran, terutama oleh pemain yang terdesak, tangan pun tak terhindarkan sering turut sibuk, meraih dan mendorong. Oleh karena itu, dalam peraturan selanjutnya tangan boleh dipergunakan dan terciptalah permainan baru yang disebut genjang.
Benjang sebagai perkembangan dari permainan adu munding (kerbau), lebih mengarah pada permainan gulat. Di dalamnya terdapat gerakan piting (menghimpit) yang dilengkapi dengan gerak-gerak pencak silat. Apabila diperhatikan, bentuk dan gerakan seni genjang ini termasuk seni gulat tradisional.
Tidak ada peraturan khusus mengenai lawan atau pemain, baik berat badan, maupun tinggi rendahnya pemain serta syarat-syarat lainnya. Sebagai pertimbangan hanyalah keberanian dan kesanggupan menghadapi lawan. Peraturan satu-satunya adalah apabila lawan tidak dapat membela diri dari himpitan lawannya dalam keadaan terlentang. Dalam keadaan demikian, maka pemain tersebut dinyatakan kalah. Selanjutnya permainan terus berjalan dengan silih berganti pasangan. Akhirnya, istilah genjang berubah menjadi benjang.


Waditra yang dipergunakan adalah: terebang, kendang, bedug, tarompet dan kecrek. Lagu-lagu yang dibawakan di antaranya: Kembang Beureum, Sorong Dayung, dan Renggong Gancang. Pertunjukan diselenggarakan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, dan lapangan. Pertunjukan dimulai pada malam hari pukul 20.00.
Dalam perkembangannya, pertunjukan benjang dilengkapi dengan kesenian lain seperti badudan, kuda lumping, bangbarongan, dan topeng benjang. Seni benjang kemudian melebar hingga ke Desa Cisaranten Wetan, Desa Cisaranten Kulon, Kecamatan Buahbatu, Kecamatan Majalaya, dan Kecamatan Cicadas, Kota Bandung.
Tokoh-tokoh pendiri dan pembaharu perkembangan seni benjang adalah Mama H. Hayat (alm) dan Abah Asrip (alm), keduanya dari Desa Cibiru, Kecamatan Ujungberung, kemudian Abah Alwasih (alm) dari Desa Ciporeat, Kampung Ciwaru, Kecamatan Ujungberung, lalu Mama H. Enjon (alm), seorang tokoh pencak silat yang melengkapi benjang dengan unsur-unsur pencak silat, dan terakhir Nunung Aspali, seorang tokoh yang masih hidup dan memimpin perkumpulan seni benjang “Putra Pajajaran” di Kecamatan Ujungberung.
Ada suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.
Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.
Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.

Wednesday, November 9, 2016

Sejarah Reak

Reak adalah salah satu kesenian rakyat Jawa Barat, khususnya di sekitar Ujung Berung-Bandung, Cileunyi-Bandung, dan Sumedang [semua daerah ini berlokasi di Propinsi Jawa Barat, Indonesia). Umumnya, kesenian ini diselenggarakan oleh masyarakat, seperti Cileunyi dan Ujung Berung, pada acara Sunatan (Sunda; khitan), baik yang dikhitannya laki-laki maupun perempuan. Namun, umumnya, reak ditampilkan ketika khitanan laki-laki. Selain itu, reak pun sering ditampilkan dalam acara-acara syukuran panen atau acara yang terkait dengan peristiwa sejarah negara Indonesia, seperti 17 Agustus-an. Dalam skala kecil, reak pun dihadirkan pada acara pernikahan, ulang tahun, peringatan akil baligh [9 tahun, atau 13 tahun, atau 15 tahun], dan acara syukuran lainnya.

Kesenian ini berupa iring-iringan dengan seperangkat atau sekumpulan istrument etnik sunda (seperti suling, kendang, kentungan, calung, dll beberapa di antaranya sudah mengadaptasi instrumen musik modern), sinden (penyanyi), kuda lumping (kuda yang sudah dilatih untuk pertunjukkan), sisingaan (patung singa beserta penari), dan penari bertopeng.

Semua instrumen dan komposisi lainnya memiliki pemaknaan simbolik sendiri-sendiri. Sebagai berikut

Penggunaan kata “reak” sebagai nama bagi kesenian ini memang banyak penjelasannya. a) Sebagian mengatakan bahwa “reak” berasal dari kata “reog”, mirip dengan nama bagi kesenian dari Jawa Timur, terutama “Reog Ponorogo”. Reak maupun Reog, menurut sebagian pandangan berasal dari kata Arab “riyyuq” yang artinya “bagus atau sempurna di akhir” atau khusnul khatimah. Sebagian lagi menyatakan bahwa reak berasal dari kata “leak”, yakni salah satu symbol kekuatan jahat dalam tradisi Hindu-Bali, yang menyimbolkan Batara Kala atau ogoh-ogoh.  Hanya saja, bagi pelaksana atau pemakai tradisi reak ini, asal-usul nama dan konteks penggunaannya tidaklah menjadi persoalan. Yang penting bagi mereka, reak adalah fakta budaya yang menyangkut media hiburan dan media ekspresi kultural mereka. Dalam komposisi iring-iringan ini, “reak” ditampilkan sebagai topeng dan fashion tertentu yang dikenakan para penari. Topeng dan asesoris inilah yang menjadi core dalam iring-iringan reak ini, karena pada sipemakai reak ini, fenomena ekstase atau penyatuan dengan dunia lain didapatkan.
Kuda lumping [merujuk pada kuda yang dihias dan mampu melakukan atraksi tertentu] memiliki makna “pengendalian kekuatan”. Kuda, yang merepresentasikan kekuatan, mampu dijinakkan dan dikendalikan oleh manusia, serta mampu dilatih untuk melakukan atraksi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan dan kegagahan mampu dijinakkan melalui pendidikan; dan apabila kekuatan itu telah mampu dikendalikan, maka ia akan mampu menunjukkan keindahan dan keluwesan.
Sisingaan. Entah kapan “singa” berada pada “ide kolektif” orang Sunda, karena di wilayah Sunda tidak ada binatang berupa singa. Dapat dipastikan bahwa “singa” merupakan “pemodelan” import. Sebagian menyebutkan bahwa “singa” muncul sebagai bentuk pengaruh dari tradisi Cina, yang kemudian diadaptasi dan dimodifikasi sesuai dengan “statigraphic” atau ide kolektif orang Sunda… Namun terlepas dari hal tersebut, singa dianggap sebagai binatang kuat dan disebut sebagai “raja hutan”. Makna simbolik dari “sisingaan” adalah hampir sama dengan makna bagi kuda lumping, yakni pengendalian kekuatan yang mewujud menjadi keindahan dan keluwesan. Selebihnya, dalam tradisi masyarakat Cina, sisingaan sering dimaknai sebagai simbol “penjaga dunia” dari gangguan ruh jahat. Bisa jadi pemaknaan dari tradisi Cina ini pun diadopsi oleh sebagian kalangan pemakai tradisi seni sisingaan.
Iring-iringan reak, dengan berbagai komposisinya, biasanya diarak berkeliling dari kampung ke kampung, menelusuri jalan raya. Sebelum iring-iringan dilaksanakan, sang pemimpin reak [pawang] biasanya melakukan ritus tertentu, yang terdiri dari “mujasmedi” [yakni berkontemplasi dan berdo’a kepada Hyang Widi], sambil membacakan doa-doa tertentu [yang umumnya terdiri dari mantera-matera], dan membakar kemenyan [atau ngukus]. Tujuannya adalah upaya untuk meminta keselamatan selama proses reak berlangsung. Menurut penuturan sang pawang, mereka mengikatkan batin mereka pada “dunia ruh”, terutama dengan ruh para leluhur untuk mendapatkan “sinyal”, wangsit, uga, dan lain sebagainya

Setelah ritual awal selesai, dimulailah membunyikan instrumen-instrumen atau tabuh-tabuhan, dengan nada-nada “ritmis” pembukaan. Pengantin sunat [dan lainnya] didudukkan di atas punggung kuda lumping dan atau sisingaan. Sedangkan, reak [penari bertopeng] ikut bersama mengikuti keduanya, sambil menarikan tarian-tarian. Beberapa penari menyebutkan bahwa tarian-tarian mereka merupakan gerak otomatis atau natural (alami), tergantung pada bawaan “ruh” para leluhur yang merasuki badan dan jiwa mereka. Dengan kata lain, mereka “kerasukan”, “kasurupan”, dan atau jiwanya dikendalikan oleh “roh” dari dunia lain.

Suara instrumen yang berirama mistis dan nyanyian para sinden sangat nyaring dan dominan terdengar hingga jarak yang cukup jauh. Sinden, yang umumnya terdiri dari dua atau tiga orang, melantunkan beberapa nyanyian sunda, secara bergantian, terutama nyanyian yang biasa dilantunkan dalam tari jaipongan. Tetapi, nyanyian mereka juga diselingi dengan beberapa nyanyian kontemporer, dang-dut-an, misalnya. Dengan tarian khas kuda lumping dan atau sisingaan, semua iringan mengitari dan mengikuti ke mana keduanya diarahkan.

Pada tempat-tempat yang agak luas, kuda lumping dan sisingaan melakukan atraksi tertentu. Sesekali terdapat orang yang kerasukan [kasurupan: Sunda], yang diklaim kerasukan ruh” atau istilah mereka “jadi” [jadi reak, yakni melebur antara dirinya dengan jiwa atau ruh reak sendiri. Mereka umumnya dalam keadaan tidak sadar atau ekstase karena disebabkan oleh suara mistis dari bunyi-bunyian instrumen dan penghayatan terhadap tari-tari [atau gerakan-gerakan] tertentu yang dimainkan. Di sinilah, anomali terjadi. Satu sisi, sebagian mereka menganggap bahwa “reak” merupakan simbol dari kejahatan, tetapi “kasurupan” atau melebur antara dirinya dengan ruh jahat, dianggap sebagai puncak “ritual”,  puncak penyatuan diri, dan puncak ekspresi budaya mereka. Dengan demikian, “jadi” bagi mereka adalah keagungan dan kehebatan. Terlepas dari anomali semantis dan ontologis seperti itu, fenomena “jadi” atau istilah lain adalah “lebur”, merupakan fenomena yang terus berulang dalam setiap pertunjukan. Hanya saja, apabila “jadi” tersebut mengarah pada ketidaksadaran perilaku yang destruktif atau tidak terkontrol, maka sang pawang aan berusaha menyadarkannya kembali.

Terlepas dari berbagai perdebatan semantis, ontologis, dan simbolik di atas, terdapat kesamaan penjelasan mengenai asal-usul dari kesenian ini. Pertama, bahwa kesenian ini merupakan seni milik masyarakat yang telah lama berurat akar pada masyarakat pemakainya. Sebagian menyebutkan bahwa kesenian ini berasal dari peninggalan kerajaan Pajajaran. Sedangkan pendapat lainnya menyebutkan bahwa kesenian ini muncul pada masa kerajaan Sumedang Larang, yang mendapat pengaruh dari kerajaan Pajang dan Mataram. Sebagian lagi menyebutkan bahwa kesenian ini muncul pada masa penjajahan Belanda, sebagai bentuk kritik masyarakat terhadap para priyayi Sunda dan kolonial Belanda [dalam hal ini, reak serupa dengan tradisi lainnya, seperti shalawat emprak yang digunakan masyarakat Sunda untuk mengkritik para priyayi pro-Belanda dan pemenrintahan kolonial Belanda].

Kedua, kesenian ini merupakan salah satu media bagi masyarakat untuk mengekspresikan rasa syukur kepada sang Khalik, terutama ketika mereka mendapatkan kebahagiaan dan nikmat. Orang Sunda sering menyebutnya sebagai “ngiring kaul” (ikut berpartisipasi untuk memberikan kebahagiaan kepada orang lain). Secara khusus terkait dengan penyelenggaraan Sunatan, acara ini dimaksudkan sebagai ekspresi kebahagiaan menyambut pengantin sunat. Sebagian masyarakat menyebutkan bahwa pada masa dahulu, reak banyak dipertunjukkan untuk dipergunakan sebagai bagian dari tradisi sedekah bumi atau seba bumi, yakni.tradisi syukuran ketika musim panen.

Ketiga, kesenian ini merupakan media pendidikan budaya, yakni untuk penanaman nilai-nilai kebaikan dari kalangan tua kepada kalangan muda dan anak-anak. Berbagai isntrumen dan komposisi reak menyimbolkan tentang “pertarungan nilai-nilai kebaikan dan keburukan”. Melalui tradisi reak ini penanaman nilai-nilai kebaikan yang harus dijaga oleh masyarakat disampaikan dengan simbol-simbol budaya, baik eksplisit maupun implisit.

Pada masanya, reak merupakan salah satu kesenian rakyat yang populer. Sejak kelahirannya hingga tahun 90-an,  tradisi ini melekat dalam budaya sunda. Setiap hajatan atau sunatan, hampir dapat dipastikan terdapat pertunjukan kesenian ini. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, kesenian ini mulai memudar popularitasnya di kalangan masyarakat. Kini kesenian ini telah digeser oleh kesenian rakyat yang baru, seperti dangdut-an, panggung terbuka, atau karaoke-an.


Sumber : Youtube & https://dadanrusmana.wordpress.com/2011/01/23/11/